Lima Rasio Laporan Keuangan UMKM yang Berguna untuk Kredit Modal Kerja

Laporan keuangan UMKM jarang serapi laporan perusahaan besar. Bentuknya sering buatan sendiri, kadang hanya satu lembar, dan angkanya belum tentu disusun dengan standar yang sama dari tahun ke tahun. Analis tetap harus memutuskan, dan rumus saja tidak cukup untuk itu.
Tulisan ini membahas lima rasio yang paling berguna untuk kredit modal kerja. Fokusnya pada cara membaca angka dan pertanyaan yang muncul setelahnya, bukan sekadar daftar rumus. Semua contoh angka di bawah adalah contoh rekaan untuk menjelaskan cara menghitung.
1. Rasio lancar: apakah usaha sanggup menutup kewajiban jangka pendek?
Rumusnya: aset lancar dibagi kewajiban lancar. Aset lancar mencakup kas, piutang dan persediaan. Kewajiban lancar mencakup utang dagang, utang bank jangka pendek dan kewajiban lain yang jatuh tempo dalam setahun.
Misalnya, aset lancar Rp600.000.000 dan kewajiban lancar Rp400.000.000, maka rasio lancarnya 1,5. Artinya, setiap rupiah kewajiban jangka pendek ditutup oleh satu setengah rupiah aset lancar.
Cara membacanya:
- Lihat isi aset lancar, bukan hanya totalnya. Rasio yang tampak sehat karena persediaan menumpuk berbeda dengan rasio yang sehat karena kas.
- Periksa umur piutang. Piutang lama yang sulit tertagih membuat aset lancar tampak lebih besar daripada kenyataannya.
- Tanyakan apakah ada utang pemilik yang dicatat sebagai kewajiban lancar, dan apakah ada rencana pelunasannya.
2. Utang terhadap modal: seberapa besar usaha dibiayai dari utang?
Rumusnya: total kewajiban dibagi ekuitas. Rasio ini menunjukkan perbandingan antara dana dari pihak luar dan dana milik pemilik.
Misalnya, total kewajiban Rp800.000.000 dan ekuitas Rp400.000.000, maka rasionya 2. Usaha dibiayai dua rupiah utang untuk setiap satu rupiah modal sendiri.
Cara membacanya:
- Bandingkan dengan tahun sebelumnya. Arah rasio sering lebih informatif daripada angka satu tahun.
- Pada UMKM, ekuitas bisa kecil karena pemilik rutin menarik laba. Tanyakan kebijakan prive atau penarikan pemilik.
- Ekuitas yang negatif atau mendekati nol perlu penjelasan tersendiri sebelum rasio lain dibahas.
3. Margin: berapa dari setiap rupiah penjualan yang tersisa?
Ada beberapa margin. Untuk kredit modal kerja, margin kotor (penjualan dikurangi harga pokok, dibagi penjualan) dan margin bersih (laba bersih dibagi penjualan) biasanya cukup.
Misalnya, penjualan Rp1.200.000.000 dan laba bersih Rp96.000.000, maka margin bersihnya 8 persen. Angka ini baru bermakna jika dibandingkan dengan jenis usahanya dan dengan periode sebelumnya.
Cara membacanya:
- Margin kotor yang turun sementara penjualan naik bisa berarti harga jual ditekan atau biaya bahan naik.
- Margin bersih yang terlalu rapi dari tahun ke tahun patut ditanyakan: bagaimana laba disusun?
- Cek apakah gaji pemilik dan biaya pribadi sudah dipisahkan dari biaya usaha. Jika belum, margin sulit dibandingkan.
4. Perputaran piutang dan persediaan: seberapa cepat modal kerja kembali menjadi kas?
Dua rasio ini paling dekat dengan kebutuhan modal kerja, karena menunjukkan berapa lama uang tertahan di piutang dan stok.
- Perputaran piutang: penjualan kredit dibagi rata-rata piutang. Bila 365 hari dibagi hasilnya, Anda mendapat rata-rata hari penagihan.
- Perputaran persediaan: harga pokok penjualan dibagi rata-rata persediaan. Bila 365 hari dibagi hasilnya, Anda mendapat rata-rata hari stok tersimpan.
Misalnya, penjualan kredit Rp900.000.000 dan rata-rata piutang Rp150.000.000. Perputarannya 6 kali setahun, atau sekitar 61 hari penagihan. Jika kebijakan usaha ke pelanggan adalah 30 hari, ada selisih yang perlu dijelaskan.
Cara membacanya:
- Hari penagihan yang memanjang berarti kebutuhan modal kerja naik tanpa penjualan bertambah. Ini sering menjadi alasan sebenarnya orang mengajukan kredit.
- Stok yang menumpuk bisa berarti barang sulit laku. Tanyakan apakah ada persediaan lama atau rusak yang belum dihapus dari catatan.
- Gunakan rata-rata awal dan akhir periode jika datanya ada. Saldo akhir tahun saja bisa menyesatkan pada usaha musiman.
5. DSCR: apakah arus kas cukup untuk membayar cicilan?
DSCR (debt service coverage ratio) membandingkan kas yang tersedia untuk membayar utang dengan kewajiban pokok dan bunga pada periode yang sama. Rumus sederhananya: laba operasi sebelum penyusutan dibagi total pokok dan bunga yang jatuh tempo.
Misalnya, laba operasi sebelum penyusutan Rp180.000.000 per tahun, sedangkan pokok dan bunga seluruh pinjaman Rp120.000.000 per tahun. DSCR-nya 1,5.
Cara membacanya:
- Masukkan cicilan yang sudah ada, termasuk dari lembaga lain, bukan hanya cicilan yang diajukan. SLIK OJK membantu melengkapi daftar ini.
- Batas DSCR minimum ditentukan kebijakan masing-masing lender. Gunakan batas yang berlaku di lembaga Anda.
- DSCR dari laba tidak sama dengan kas. Jika piutang membengkak, laba bisa ada sementara kas tidak ada. Bandingkan dengan arus uang masuk di mutasi rekening.
Hal yang perlu dicek sebelum percaya pada rasio
Rasio hanya sebaik laporan yang menjadi sumbernya. Beberapa pemeriksaan dasar:
- Apakah neraca seimbang, dan apakah laba pada laporan laba rugi sesuai dengan perubahan ekuitas?
- Apakah penjualan di laporan masuk akal dibandingkan uang masuk di rekening usaha? Selisihnya wajar bila ada penjualan tunai atau rekening lain, tetapi harus bisa dijelaskan.
- Apakah ada penjualan yang melonjak tepat sebelum pengajuan?
- Apakah laporan dibuat pihak yang sama dengan tahun lalu, dengan cara pencatatan yang sama?
Ringkasan
| Rasio | Yang diukur | Pertanyaan utama |
|---|---|---|
| Rasio lancar | Kemampuan menutup kewajiban jangka pendek | Apa isi aset lancarnya? |
| Utang terhadap modal | Ketergantungan pada utang | Seberapa besar penarikan pemilik? |
| Margin | Profitabilitas | Apakah biaya pribadi sudah dipisahkan? |
| Perputaran piutang dan persediaan | Kecepatan modal kembali menjadi kas | Mengapa penagihan atau stok melambat? |
| DSCR | Kemampuan membayar cicilan | Apakah semua cicilan sudah dihitung? |
Tidak ada satu rasio yang cukup. Yang berguna adalah melihat kelimanya bersama, membandingkannya dengan periode sebelumnya, lalu menanyakan hal yang tidak sinkron.
Bagaimana Mutasi membantu
Mutasi membaca laporan keuangan, mutasi rekening, laporan SLIK dan Pefindo, serta slip gaji, lalu mencocokkan satu dokumen dengan dokumen lain dan menandai sinyal yang perlu Anda tanyakan. Keputusan kredit tetap di tangan analis. Untuk contoh pemeriksaan lain pada mutasi rekening, baca 7 tanda di mutasi rekening yang perlu dicek ulang.
Jika Anda ingin mencoba dengan dokumen sendiri, buka sandbox Mutasi dan dapatkan 500 halaman gratis.


